Sunday, March 18, 2012

Resensi Film : 'Let Me In'

'LET ME IN', Gadis Kecil Yang Misterius





Sinopsis

Owen (Kodi Smit-McPhee) memang punya masalah dalam bersosialisasi. Karena selalu jadi korban bullying Owen lebih suka menyendiri ketimbang bermain bersama teman-teman sebayanya. Saat bertemu Abby (ChloĆ« Moretz), Owen menemukan kesamaan pada diri gadis kecil ini. Tak perlu waktu lama buat keduanya untuk jadi teman meski ternyata Abby menyimpan satu rahasia yang tak diketahui Owen. 

LET ME IN
Seperti juga Owen, Abby juga tak punya teman. Malahan Abby jauh lebih ekstrem dibanding Owen. Abby hanya keluar setelah matahari tenggelam dan ia juga tak pernah mengenakan alas kaki, seolah dinginnya salju di telapak kaki tak membuat Abby resah. Satu-satunya orang yang dekat dengan Abby hanyalah ayah Abby yang juga tak suka bergaul dengan para tetangga di sana.
Ketika suatu hari ayah Abby menghilang, Owen berusaha untuk memberikan bantuan pada gadis kecil berusia 12 tahun ini. Meski Abby selalu menolak namun langkah Owen tak pernah surut. Saat semakin dekat, Owen baru sadar kalau Abby bukanlah gadis biasa. Ada yang aneh pada gadis kecil ini. Dan saat warga kota mulai menghilang satu per satu, Owen mulai sadar kalau Abby sebenarnya bukanlah manusia.

Review

LET ME IN
LET ME IN memang film yang mengangkat tema tentang vampir, tapi jangan berharap film ini memiliki kemiripan dengan TWILIGHTkarena LET ME IN memang benar-benar film vampir. Tak ada romantisme dan keindahan seperti dalam TWILIGHT. Yang ada adalah warna-warna suram dan mengerikan. Tapi itulah film vampir yang sebenarnya.
Kalau Anda sempat menyaksikan film berjudul LET THE RIGHT ONE IN di tahun 2008 lalu, film ini adalah adaptasi dari film buatan Swedia tersebut. Dan sepertinya Matt Reeves tak bermaksud mengubah 'nada' maupun 'warna' dari film aslinya itu. Meski ada beberapa penyesuaian, namun secara keseluruhan dua film ini bisa dibilang sama. Untungnya dari sisi kualitas, film ini juga tak kalah dengan LET THE RIGHT ONE In.
LET ME IN
Selain para pendukungnya yang bermain sangat apik, terutama Chloe Moretz yang juga sempat bermain di KICK-ASS, visualisasi film ini bisa menggambarkan nuansa seram yang memang ingin dibangun.. Meski bisa dibilang ini adalah filmnya Chloe namun bukan berarti para pemeran lain seperti Kodi Smit-McPhee dan Elias Koteas lantas tak menyumbangkan apa pun.
Genre:Horror
Release Date:October 1, 2010
Director:Matt Reeves
Script:Matt Reeves
Producer:Simon Oakes, Guy East, Nigel Sinclair, Donna Gigliotti, John Nordling, Carl Molinder
Distributor:Overture Film
Duration:116 minutes
Budget:US$20 million
Official Site:www.letmein-movie.com

Trailer Film

Baca Selengkapnya >>

Wednesday, March 14, 2012

Dreams come true : NOU CAMP!


Betapa senangnya pada saat ini kamis tanggal 8 oktober 2010 , aku dapat merasakan uforia  dengan ribuan cules (baca : fans barcelona) di dalam stadion kebangaan klub sepak bola FC Barcelona ! 
Yaaa.. akhirnya aku bisa berada disini menonton aksi para pemain-pemain FC Barcelona secara langsung ! aaah...susah di tuliskan dengan kata-kata. Pokoknya aku benar-benar BAHAGIA sekali pada hari ini !

Aku bisa datang ke NOU CAMP karena aku telah memenangkan sebuah undian lomba dan nama ku lah yang keluar sebagai pemenangnya . Aku bukanlah pemenang seorang diri , ada 10 orang lainya yg bernasib beruntung sepertiku. Alhamdulillah....
Aku disini bersama-sama menyayikan chant dan bersorak sorai dengan penuh semangat dan pastinya menggunakan atribut lengkap dengan kaos jersey barca dan syal . Suasana stadion penuh dan ramai sekali . Apa lagi setelah para pemain-pemain barca masuk kelapangan , suasana stadion semakin gemuruh .




Pritt peluit pertanda akhirnya pertandingan selesai dan FC Barca keluar sebagai pemenangnya. Berlipat lipat ganda kebahagiaan ku hari ini . Maap tidak bisa aku ceritakan jalannya pertandingan nya seperti apa karena keterbatasan waktu penulis , hehe..

Oiya cerita ini hanyalah fiktif belaka hahahahahaha.... Semoga cerita ini benar-benar terjadi ke saya.. Sekian :)

Baca Selengkapnya >>

Wednesday, December 7, 2011

Tugas Bahasa Indonesia 3


Ada beberapa yang merupakan pola pengembangan paragraf, yaitu :
  1. Paragraf definisi adalah paragraf yang menjelaskan sesuatu dengan jelas dengan konjungsi (adalah, ialah, yaitu) agar mudah dimengerti.
Contoh pengembangan paragraf definisi :
Apakah itu Sistem Bilangan ( Number System) ? Bagi sebagian pelajar sudah mengenal apa itu system bilangan, Sistem bilangan adalah suatu cara untuk mewakili besaran dari suatu item phisik. Sistem bilangan yang banyak dipergunakan oleh manusia adalah system bilangan Desimal, yaitu system bilangan yang menggunakan 10 macam symbol untuk mewakili suatu besaran, Sistem ini banak digunakan oleh manusia karena manusia mempunyai 10 buah jari untuk dapat membantu perhitungan dengan system decimal.
  1. Pola paragraph contoh, Paragraf contoh ebuah paragraf ilustrasi. Paragraf contoh dikembangkan menggunakan sebuah contoh atau ilustrasi. Contoh atau ilustrasi pada paragraph tersebut yang memberikan penjelasan terhadap gagasan paragraf, baik dengan cara deduktif, induktif, atau paduan keduanya.
Contoh pengembangan paragraf contoh :
Banyak dari sebagian orang, barangkali mayoritas, mungkin memandang curiga pada kehidupan ini, itu adalah karena mereka menolak untuk percaya bahwa keberhasilan datang dari pikiran yang dikelola dengan baik. Akan tetapi jangan terima penilaian dari orang biasa, Jika seseorang ragu mengenai kekuatan dasar prinsip, bertanyalah kepada orang paling berhasil yang anda kenal apa yang dia pikirkan tentang dirinya sendiri/
  1. Paragraf kausal adalah paragraf yang menunjukkan hubungan sebab­akibat dalam suatu kejadian.
Contoh pengembangan paragraf kausal :
Banyak anak generasi sekarang/ remaja yang selalu melupakan waktu yang bermaanfaat untuk diri mereka sendiri, karena mereka selalu membuang-buang waktu yang tidak penting untuk diri mereka kedepannya selalu bermalas-malasan yang sering dilakukan, tapi tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada masa depan mereka, Hanya dari sebagian orang yang berhasil karena menanam benih dengan sunggu-sungguh untuk belajar demi masa depan yang indah baginya.
  1. Paragraf perbandingan paragraf yang membandingkan sesuatu untuk menemukan perbedaan atau persamaan.
Contoh pengembangan paragraf perbandingan :
Pada pertandingan sepak bola piala AFF pada penyisihan group di stadion Glora Bung Karno (GBK) Indonesia telah mengalahkan malaysia dengan score 5-1 dengan permainan yang sangat sportif dan sangat baik, sehingga Indonesia lanjuta pada babak-babak berikutnya, dan akhirnya bertemu lembali dengan Malaysia pada putaran Final pertama AFF yang di pertandingkan di stadion Bukit jalil Malaysia, pada pertandingan tersebut Indonesia Kalah dengan Malaysia dengan score 3-0 pada permainan tersebut para supporter Malaysia berbuat curang dan tidak sportif, mereka melakukan curang dengan bermain Laser mengarahkan ke pemainan Indonesia.
  1. Paragraf spasial adalah paragraf yang penulisannya berhubungan dengan tempat tertentu dan menggambarkannya.
Contoh pengembangan paragraf spasial :
Pada pertandingan Final Piala Suzuki AFF 2010 di selenggarankan di dua tempat dengan para tim yang berhasil lolos ke putaran final, yaitu antar Indonesia dan Malaysia, dan pada putaran final leg pertama akan di selenggarakan di Malaysia di stadion Bukit jalil, Kuala Lumpur pada tanggal 26-12-2010, dan pada putaran final leg ke 2 akan di selenggarakan di Tuan Rumah Piala AFF di Stadion Utama Glora Bung Karno, Jakarta , pada tanggal 29-12-2010, semoga Indonesia menang pada piala AFF.

Contoh Paragraf Deduktif :

Paragraf dengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat penjelas.
Contoh :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.

Paragraf induktif:
Kalimat utama terletak di akhir paragraf setelah kalimat-kalimat penjelas.
Contoh :
Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Itulah beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional

Paragraf Deduktif-Induktif
Kalimat Utamanya terdapat pada awal paragraph, dan ai akhir juga ada loh….
Contoh :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN). Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Oleh karena itu, maka sebaiknya para guru memberitahukan tips belajar menjelang UAN.

Dari Berbagai Sumber
Baca Selengkapnya >>

Sunday, October 30, 2011

Pengertian Diksi atau Pilihan kata, Gaya bahasa


Jika kita menulis atau berbicara, kita itu selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa, kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.
Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.
Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna :
•        Makna sebuah kata / sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
1.      Makna Leksikal :  makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).
Makna Gramatikal : untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.
2.      Makna Referensial dan Nonreferensial : Makna referensial & nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial).
3.      Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya normal.  Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
4.      Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yg bisa dikendarai”. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem / kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata melati berasosiasi dg suatu yg suci / kesucian. Kata merah berasosiasi berani / paham komunis.
5.      Makna Kata dan Makna Istilah
Makna kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.  Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.
6.      Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Yang dimaksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contoh: Kata ketakutan, kesedihan, keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yg disebut makna dasar, Kata rumah kayu bermakna, rumah yang terbuat dari kayu.  Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa
7.      Makna Kias dan Lugas
Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Contoh: Putri malam bermakna bulan , Raja siang bermakna matahari.
Agar dapat menghasilkan cerita yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang baik harus memenuhi syarat, seperti :
•        Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.
•        Seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa bagi pembacanya.
•        Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti.
Contoh Paragraf :
 1). Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan kawanku. Udara disana sangat sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang tak lama kemudian.
 2). Liburan tahun ini Aku dan kawanku berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak henti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari disana, kami pulan
1.      Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah 
suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.
2.      Makna Umum dan Khusus
 Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang-lingkupnya.
-        Makin luas ruang-lingkup suatu kata, maka makin umum sifatnya. Makin umum suatu kata, maka semakin terbuka kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya.
-        Makin sempit ruang-lingkupnya, makin khusus sifatnya sehingga makin sedikit kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya, dan makin mendekatkan penulis pada pilihan kata secara tepat.
Misalnya:
Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada kata mujair  atau tawes. Ikan tidak hanya mujair atau tidak seperti gurame, lele, sepat, tuna, baronang, nila, ikan koki dan ikan mas. Dalam hal ini kata acuannya lebih luas disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas.
3.      Kata abstrak dan kata konkret.
Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca-indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca-indra, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan tersebut dapat menjadi samar dan tidak cermat.
4.      Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kita ambil contoh cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar.
Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu kata.
5.      Kata Ilmiah dan kata popular
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi khusus.
Yang membedakan antara kata ilmiah dengan kata populer adalah bila kata populer digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan, kata-kata ilmiah digunakan pada tulisan-tulisan yang berbau pendidikan. Yang juga terdapat pada penulisan artikel, karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis maupun desertasi.
Kalimat Efektif dalam bahasa indonesia
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis sehingga pembaca atau pendengar dapat menerima maksud/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara.
Ciri-ciri kalimat efektif: (memiliki)
-        KESATUAN GAGASAN
Memiliki subyek,predikat, serta unsur-unsur lain (O/K) yang saling mendukung serta membentuk kesaruan tunggal.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan)
-        KESEJAJARAN
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-. Kalimat itu harus diubah :
-        Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
-        Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
-        KEHEMATAN
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
-        PENEKANAN
 Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
 Caranya:
1.      Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan kalimat. Contoh :
a.      Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain
b.      Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
2.      Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah. Contoh :
a.      Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
b.      Kami pun turut dalam kegiatan itu.
c.       Dapatkah dia menyelesaikannya?
3.      Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
Contoh :
Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.
4.      Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Contoh :
a.       Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
b.      Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.
-        KELOGISAN : Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal. Contoh :
Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya :
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.
Penentuan batas kata
Dalam ilmu linguistik barat ada minimal lima cara dalam menentukan batas-batas kata:
a.      Pada jeda
Seorang pembicara disuruh untuk mengulang kalimat yang diberikan secara pelan, diperbolehkan untuk beristirahat dan mengambil jeda. Sang pembicara maka akan cenderung memasukkan jeda pada batas-batas kata. Namun metoda ini tidaklah sempurna: sang pembicara bisa dengan mudah memilah-milah kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata.
b.      Keutuhan
Seorang pengguna disuruh untuk mengucapkan sebuah kalimat secara keras dan lalu disuruh untuk mengucapkannya lagi dan ditambah beberapa kata.
c.       Bentuk bebas minimal
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.
d.      Batas fonetis
Beberapa bahasa mempunyai aturan pelafazan khusus yang membuatnya mudah ditinjau di mana batas kata sejatinya. Misalnya, di bahasa yang secara teratur menjatuhkan tekanan pada suku-kata terakhir, maka batas kata mungkin jatuh setelah masing-masing suku-kata yang diberi tekanan. Contoh lain bisa didengarkan pada bahasa yang mempunyai harmoni vokal (seperti bahasa Turki): vokal dalam sebagian kata memiliki "kualitas" sama, oleh sebab itu batas kata mungkin terjadi setiap kali kualitas huruf hidup berganti. Tetapi, tidak semua bahasa mempunyai peraturan fonetis seperti itu yang mudah, kalaupun iya, pada bahasa ini ada pula perkecualiannya.
e.      Satuan semantic
Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini, metode ini memilah-milah kalimat ke dalam kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata majemuk.
Dalam prakteknya, para ahli bahasa menggunakan campuran semua metode ini untuk menentukan batas kata dalam kalimat. Namun penggunaan metode ini, definisi persis kata sering masih sangat sukar ditangkap.
http://romiantony.blogspot.com/2011/10/pengertian-diksi-atau-pilihan-kata-gaya.html
Baca Selengkapnya >>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...